Jakarta, 06 September 2023
Kata tadabbur, secara istilah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa, kata tadabbur berasal dari kata dabbara yang berarti belakang. Tadabbur itu sendiri berarti memikirkan, merenungkan, memperhatikan sesuatu di belakang. Menurut Moelono dkk, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tadabbur berarti merenungkan (Asyafah, 2014). Huzaifah (dalam Inayah, 2018) menyebutkan bahwa kata tadabbur menurut bahasa berasal dari kata دبر yang berarti menghadap, sedangkan menurut ahli bahasa mengandung arti memikirkan, merenungkan. Hilmi hambali menjelaskan bahwa tadabbur berarti merenungkan, menghayati, memikirkan, makna untuk kemudian menjadikannya sebagai sebuah pelajaran (Hanif, 2018). Dengan demikian dapat diartikan tadabbur ialah memperhatikan, merenungkan sesuatu dibalik suatu perkara ataupun fenomena yang terjadi.
Dengan demikian, tadabbur alam adalah sebuah proses untuk merenungi dan menghayati segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, yang telah diciptakan oleh-Nya, yang bertujuan untuk lebih mengenal alam, lebih dekat dengan alam, sehingga bisa menjaga dan melestarikan keberadaannya.
Tim Takziyah Madrasah Aliyah YAPIS AL-Oesmaniyyah melakukan tadabur alam di Pantai Kahuripan dan Pantai Sembilan, Kecamatan Gili Genteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Kegiatan tadabur alam ini dilakukan pada jeda waktu takziyah di rumah orang tua Bapak Ali Helmi, S.T, salah satu guru di Madrasah Pinggiran Teluk Jakarta.
Selesai melakukan silahturahmi dengan keluarga musibah, Tim Takziyah yang terdiri dari Bapak, Basuki, S.Si, Ibu Sondang Nauli, Ananda Heri Purwanda dan Ananda Agung Wibowo, didampingi oleh Bapak Ali Helmi, S.T, dan salah satu perangkat desa Aeng Anyar, Bapak Kali, S.Pd. melakukan perjalanan menuju Pantai Kahuripan, di pesisir tenggara Pulau Gili Genteng.
Perjalanan panjang, berkelok-kelok dan berdebu akhirnya terbayar dengan keindahan dan keaslian Pantai Kahuripan. Hamparan pasir putih yang terhubung langsung dengan indahnya ombak yang saling kejar mengejar terasa begitu menyenangkan mata memandang. Hembusan angin melewati rimbunan pepohonan yang memagari pinggiran Laut Madura ini bagaikan tegukan es kelapa di saat berbuka puasa. Sejuk dan sepaoi-sepoi.
Begitulah keindahan ciptaan Sang Kholik yang perlu kita jaga kelestariannya. perlu kita jaga kebersihan dan keindahannya sehingga nantinya anak cucu kita dapat menikmatinya. Setelah menikmati indahnya Pantai Kahuripan, Tim Takziyah Madrasah Aliyah YAPIS Al-Oesmaniyyah melanjutkan perjalanan tadabur alamnya ke Pantai Sembilan.
Perwajahan Pantai Sembilan begitu mempesona. Tata letak dan penataan Pantai Sembilan lebih modern, karena Pemerintah Desa setempat sudah melakukan pengorganisasian menuju distinasi wisata dengan konsep wisata pantai. Tersedia resort bagi pengunjung yang berkenan bermalam dengan harga terjangkau. Menurut Bapak Kali, S.Pd. salah satu pencetus desa wisata ini, bahwa pengunjung dapat melakukan reservasi untuk paket wisata dengan harga terjangkau, pelayanan memuaskan.
Anjangsana di Pantai Sembilan disudahi oleh Tim Takziyah dikarenakan terdengar kumandang adzan magrib. Setelah selesai menunaikan Sholat Magrib, Tim bergegas menuju rumah shohibul musibah untuk bergabung dengan warga Desa Gedugan melakukan tahlil bersama hari kedua meninggalnya Almarhum H. Bahrik Bin H. Hasan. (Humas MA YAPIS Al-Oesmaniyyah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar